Penyebab Naik Turunnya Emosi selama Kehamilan

Seorang ibu hamil sangat mungkin mengalami mood swing atau emosi yang naik-turun. Para ahli menyatakan, ada hubungan antara hormon dan mood. Sebagian wanita bisa sangat sensitif dengan perubahan hormon yang terjadi selama masa kehamilan. Meski demikian, ada berbagai faktor yang memengaruhi emosi, selain hormon. Berikut ini penjelasannya.

SehatQ.com

Baca juga artikel lain di : http://firdaus.student.ittelkom-pwt.ac.id/

1.Trimester Pertama

Seorang wanita mengalami perubahan besar pada 3 bulan pertama kehamilannya, baik secara fisik maupun mental. Rasa bahagia, cemas, sekaligus takut, bercampur menjadi satu.

  • Lonjakan Hormon

Hormon human chorionic gonadotropin (hCG) melonjak drastis pada kehamilan berusia 1-4 bulan. Sementara itu, progesteron dan estrogen yang meningkat selama 9 bulan, membantu mempertahankan kehamilan dan memperlancar aliran nutrisi pada bayi.

Lonjakan hormon ini sangat penting bagi bayi, meski terkadang efeknya tak tertahankan pada ibu. Misalnya mual di pagi hari, emosi yang meluap-luap kemudian mereda, serta keinginan untuk menangis. Sebaiknya, Anda beristirahat. Apalagi jika Anda menjalani masa kehamilan sembari merawat anak.

Wajar bagi seorang wanita pada kehamilan kedua dan berikutnya, yang merasa kurang bahagia, jika dibandingkan dengan kehamilan pertama. Dr. Puryear, penulis buku, “Understanding Your Mood When You’re Expecting” mengatakan, sebanyak 99,9% persen wanita yang sudah memiliki anak, mengalami hal tersebut.

  • Emosi yang Tak Karuan

Naik turunnya emosi ini tak terhindarkan. Tak terkecuali buat Anda yang sudah terbiasa mengontrol diri. Sebaiknya Anda menjalani fase ini dengan lapang dada. Perbanyak istirahat, tidur, komunikasikan kebutuhan Anda, dan meminta bantuan dari orang-orang terdekat.

2. Trimester Kedua

Mual di pagi hari serta tanda-tanda hamil muda lainnya mulai hilang pada periode ini. Pada masa ini, hCG kembali normal. Sementara itu, progesteron dan estrogen meningkat perlahan. Meski perut sudah membuncit, Anda mulai bisa rileks. Anda bisa merasakan senang yang luar baisa ketika merasakan tendangan janin. Namun, hal-hal di bawah ini bisa memancing emosi Anda naik.

  • Stres karena Tes

Dokter bisa jadi menyarankan Anda untuk menjalani serangkaian tes. Langkah ini bertujuan untuk kemungkinan adanya gangguan pada bayi, seperti sindroma down. Rangkaian tes ini juga ternyata bisa memicu keguguran. Menanti hasil tes akan sangat mendebarkan. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, ibu hamil pasti mengalami kesedihan.

  • Keintiman dengan Pasangan Berkurang

Persoalan lain pun muncul ketika seorang wanita hamil mengalami lonjakan berat badan, dan menjadi gemuk. Sebagian wanita pun merasa kurang cantik saat hamil. Belum lagi, saran dokter agar ibu hamil menjaga kenaikan berat badan tetap stabil. Stres pun bisa bertambah. Padahal, dokter memberikan rekomendasi itu agar ibu hamil terhindar dari berbagai gangguan kesehatan, termasuk diabetes. Di sisi lain, aktivitas bercinta dengan pasangan kadang terhenti. Ada baiknya, hal ini dikomunikasikan dengan baik pada pasangan.

3. Trimester Ketiga

Pada trimester ketiga atau terakhir di masa kehamilan, wanita terus mengalami kenaikan berat badan, mudah lelah, serta sulit tidur. Pada bulan terakhir kehamilan, level estrogen dan progesteron berada di puncaknya. Jadi, wajar jika emosi naik-turun. Yang terpenting adalah merawat diri sendiri. Jika lelah, segera tidur. Tidur sebentar-sebentar lebih baik daripada tidak tidur.

Hampir semua wanita hamil mengalami kecemasan. Jangan sampai stres membuat seorang ibu hamil tak berdaya. Dampaknya akan berbahaya. Sebab, berdasarkan sebuah studi, wanita dengan hormon stres kortisol 3 kali lipat kondisi normal, kemungkinan besar mengalami keguguran. Ada baiknya Anda menemui psikolog maupun psikiater untuk berkonsultasi. Simak artikel terbaru terkait kehamilan dan berbagai tips kesehatan menarik di SehatQ.com